Arsavin’s Blog
SMAWIPA XI-2

Artikel Bomber
Bomber Membombardir Jakarta
(Laporan:Noviyanri .A. Dara Siregar/2006 – 10 – 1178/MC 10 – 11B)
jblack09b
Banyak kita lihat adanya gambar-gambar grafiti di beberapa tempat umum di Jakarta. Banyak pula dari kita yang tidak peduli sehingga akhirnya tanpa kita sadari bahwa bomber sudah merajalela di Jakarta. Mereka berkeliaran pada tengah malam dan melakukan aksi andalan mereka yaitu menge-bomb dinding-dinding polos yang menganggur.

”Nge-bomb” adalah istilah para bomber untuk kegiatan yang mereka lakukan. Bomber itu sendiri adalah orang yang melakukan kegiatan menggambar grafiti di tembok-tembok atau fasilitas umum lainnya pada tengah malam. Para bomber sengaja melakukan kegiatan ”nge-bomb” pada tengah malam menjelang pagi karena beberapa faktor. Diantaranya adalah sepi sehingga tidak menjadi perhatian orang lain, tidak diusik warga, tidak panas dan yang terpenting adalah jarangnya SAT POL PP atau aparat yang mengawasi jalan sehingga mereka bisa terbebas dari penangkapan yang dilakukan SAT POL PP karena hal ini dianggap ilegal oleh pemerintah. Hal ini dianggap ilegal karena mereka melakukannya tanpa seizin pemilik tempat dan juga tanpa ijin dari Pemda. Jadi apabila melihat tempat/dinding kosong, mereka langsung ”ga tahan” untuk menggambar di tempat tersebut. Selain itu pemerintah juga menilai bahwa gambar yang mereka buat hanyalah merusak fasilitas umum. Dinilai merusak karena jarang dari mereka menggambar dengan bentuk yang mudah dimengerti oleh orang lain. Hanya merekalah yang mengerti maksud dari gambar yang mereka buat.
Para bomber ini juga memiliki komunitas sendiri. Sebut saja beberapa nama seperti Arcoholic, Bombcat dan Tembok Bomber. Komunitas ini dibentuk oleh orang-orang yang memiliki hobi dan kesukaan yang sama. Biasanya sebelum ”nge-bomb” mereka kumpul-kumpul atau ”nongkrong” dulu baru pergi ke sesuatu tempat yang bisa dijadikan media untuk menggambar.
Saya melakukan observasi langsung dengan para bomber itu sendiri. Saya juga ikut menyaksikan mereka ”nge-bomb” di daerah Fatahilah, Kota.
Rama (bukan nama sebenarnya), Defta (bukan nama sebenarnya) dan Nico (bukan nama sebenarnya) adalah para bomber yang saya wawancara. Mereka bertiga adalah teman sepermainan sejak kecil. Mereka melakukan hal ini sudah 2 tahun lebih. Mereka juga menyebutkan bahwa menyalurkan hobi dan emosi adalah alasan mereka melakukan kegiatan ini. Biaya pun lumayan murah. Hanya Rp. 100.000,- sampai Rp. 200.000,- untuk sekali ”nge-bomb”
Mereka menggunakan pilox dan juga cat tembok untuk menggambar. Biasanya untuk sekali ”nge-bomb” mereka memakai sekitar 10 kaleng pilox.
”Kalo nge-bomb tuh enak. Bisa tersalur emosinya. Bisa dalam bentuk gambar atau tulisan,” tutur Rama. ”Tapi kalo saya sih lebih suka gambar karakter sama kayak gambar nuansa,” lanjutnya.
Inspirasi yang mereka dapat saat ”nge-bomb” sangat bervariasi. Ada yang melihat komik, referensi dari buku tentang art, ada juga yang menggambar tanpa direncanakan dahulu.
”Sebenarnya nge-bomb tuh tegantung mood kita aja. Jarang dari kita yang nge-bomb direncanain mau gambar apa. Semua tergantung mood masing-masing,” ujar Defta. ”Gambar yang gw buat biasanya berbentuk karakter. Seperti ’dentoys’ ini,” ujarnya sambil terus menggambar.

(salah satu karya Defta)

TERTANGKAP SAT POL PP
Seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa ”nge-bomb” merupakan kegiatan yang ilegal ddilakukan. Maka tak jarang dari mereka yang tertangkap oleh SAT POL PP saat sedang ”nge-bomb” di suatu tempat.
”Awal tahun 2006 kita pernah ketangkep SAT POL PP waktu nge-bomb di daerah Antam, Jakarta Selatan. Waktu itu gw nge-bomb sampe 20 orang lebih. Kita cuma di introgasi sambil negosiasi, biar pilox kita ga diambil. Mungkin karena kita nge-bombnya rame-rame jadi kita ga sampai di tangkap sama SAT POL PP. Kita juga ga diminta uang atau apapun buat nyogok mereka,” jelas Nico. ”Kalo kita ketemu sama aparat yang baik, kita ga diminta bayaran biar dibebasin paling Cuma dinasihatin biar ga ngulangin lagi. Tapi kalo kita ketemu aparat yang rese, kita suka diminta uang. Paling sekitar Rp. 15.000,- per orang,” lanjut Nico.
Adanya razia dan juga aksi penangkapan ini tidaklah membuat para bomber menyerah dan takut dengan kemungkinan mereka akan tertangkap lagi. Mereka menganggap bila di kejar-kejar atau ditangkap aparat adalah hal yang menantang buat mereka.

EVENT PARA BOMBER
Pada tanggal 20-22 Desembar 2006 salah satu komunitas bomber yaitu Ruang Rupa mengadakan suatu event yaitu ”nge-bomb” bersama bomber-bomber yang ada di Jakarta. Mereka membuat suatu gerakan yang dinamai ”Revolusi 300 CC”
Mereka mengundang para bomber yang ada di Jakarta. Lalu mereka kumpul di suatu tempat di daerah Tebet dan mendiskusikan rencana mereka. Setelah diskusi akhirnya mereka membuat suatu tema yaitu ”Resolusi Jakarta 300CC”
Tema ini dibuat para bomber sebagai bentuk apresiasi dan respon dari para seniman jalanan atas keadaan di Jakarta yang semakin hari semakin kacau. Seperti macet yang berkelanjutan, banjir, kenaikan harga dan juga tingginya tingkat korupsi di Jakarta.
Respon yang mereka erikan yaitu dengan ”nge-bomb” di suatu daerah di kawasan Kuningan, Jakarta Pusat
Sebelum melakukan aksinya, terlebih dahulu mereka izin dengan Pemda setempat. Setelah di beri izin, barulah mereka melakukan. ”Gw waktu itu juga ikutan acara itu. Seru lho, jadi kita tuh dibagi-bagi jadi beberapa tim. Terus setiap tim di tentuin harus nge-bomb dimana. Waktu itu gw sama tim gw dapet di salah satu tiang jembatan di daerah Kuningan. Kita ngegambarnya sesuai sama tema yang udah dikasih,” cerita Defta. ”Waktu itu ada sekitar 70-an orang yang ikut event ini. Enak juga sih, soalnya kita kan bikinnya ga malam hari kayak yang biasa kita lakuin jadi kita bisa ngeliat warnanya udah pas atau belum. Terus kita juga ga harus waspada dan siap-siap kabur dengan adanya aparat atau pun SAT POL PP. Karena kita membuat event ini udah ijin sama Pemda setempat dan Pemda setempat juga udah ngebolehin, makanya kita berani bikin dari siang sampe sore,” lanjutnya.

WARGA PROTES
Saya juga melakukan wawancara dengan beberapa orang apa pendapat mereka tentang kegiatan para bomber ini. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Ada yang suka, ada juga yang tidak ska.
”Kalo saya sih suka-suka aja selama grafiti yang mereka buat itu bagus dan nyeni. Ya pokoknya selama grafitinya ga nyeleneh saya suka,” ujar Fani salah satu warga yang tinggal di daerah Bekasi.
”Saya ga suka sama grafiti-grafiti ini. Cuma ngotor-ngotorin fasilitas yang ada aja. Kan fasilitas ini diadakan Pemerintah buat dirawat, bukan buat dicorat-coret ga jelas kayak gini,” tutur Mahdi. Bapak satu anak ini sangat tidak menyukai kegiatan para bomber. Beliau menganggap hal ini cuma buang-buang waktu dan uang. ”Lebih baik waktu mereka dipake buat hal yang lebih baik. Daripada keluyuran tengah malam cuma buat bikin grafiti, ga ada gunanya,” lanjutnya.
Kegiatan ”nge-bomb” ini memang sudah menjadi pembicaraan di sekitar masyarakat yang menyadari kehadiran para bomber. Aparat pun kerap menangkap para bomber yang tertangkap basah saat sedang ”nge-bomb” di suatu tempat.
Para bomber pun berharap bahwa hal yang mereka dibikin legal. Mereka hanya berusaha menyalurkan hobi dan inspirasi mereka dalam sebuah media yang lebih besar yang dapat dilihat banyak orang dan mendapat pengakuan atas gambar yang mereka bikin. Karena tidak adanya fasilitas yang memadai, mereka terpaksa memakai tembok, dinding, bahkan tiang-tiang jembatan sebagai media mereka menggambar. Sebenarnya hal ini sah-sah saja selama mereka tidak melakukannya dengan kekerasan dan menggunakan narkoba.
Semua yang mereka lakukan hanyalah sekedar penyaluran hobi semata.
”Saya suka-suka saja sama grafiti-grafiti ini. Apa lagi gambarnya kadang suka ada yang keren. Paling yang saya ga suka kalo gambarnya menjurus ke hal yang porno dan anarkis. Kayak yang pernah saya lihat di salah satu tiang jembatan di Jakarta, itu gambar cewek yang payudaranya kelihatan. Saya ga suka gambar yang kayak gitu, Cuma buat ngerusak moral. Kan ga bagus kalo dilihat sama anak kecil,” tutur Budi salah seorang mahasiswa yang menutup wawancara saya tentang kegiatan para bomber tersebut.
Posted by Dara Siregar at 06:48

Belum Ada Tanggapan to “”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: